6.24.2015

Alah Bisa Karena Biasa

Menabung, kata ini gampang diucapkan tapi sulit untuk dilakukan, apalagi kalau ga pake niat suci lahir dan batin. Dari dulu, menabung bukanlah sesuatu yang rutin gw lakukan, niatnya sih iya, rutin banget di dalam hati, tapi sayang implementasinya yang ga ada. Semakin bertambahnya umur, gw semakin sadar kalau gw harus memulai menabung dan investasi dari sekarang. Kenapa? Karena dua motivasi utama yaitu kebutuhan pribadi dan keluarga yang makin beraneka ragam, dan gw berharap untuk tidak menyusahkan anak cucu ketika tua nanti.

Gw mulai menabung secara rutin adalah saat persiapan untuk nikah. Dimulai dari pembicaran cukup serius antara gw dan pacar sepulangnya gw beres S2 tahun 2013 untuk menikah di tahun berikutnya. Dan niat kita waktu itu pokoknya sebisa mungkin tidak merepotkan orangtua. Ga apa apa sederhana, yang penting orang-orang kesayangan bisa hadir dan memberi doa. Akhirnya saat itu kita sepakat untuk mengumpulkan biaya pernikahan dengan cara masing-masing. Gw memilih mengumpulkan uang lewat tabungan berjangka di salah satu bank BUMN dengan jangka waktu 1 tahun. Kenapa tabungan berjangka? Karena sistem penyetoran yang auto debet per bulannya, jadi kita ga perlu antri dan susah-susah setor langsung ke bank dan akhirnya ga ada alasan untuk tidak menyisihkan uang. Cara ini aman banget buat pemula macam gw yang bawaannya gatal lihat uang menganggur di rekening.

Tabungan berjangka gw saat itu jatuh tempo sebelum dibutuhkan, yaitu sekitar 7 bulan sebelum hari H. Jadilah gw coba salah satu produk keuangan lain di bank: deposito, yang berfungsi sebagai tempat 'parkir' sementara tabungan gw. Gw ambil deposito berjangka dengan jangka waktu 6 bulan. Di deposito  memang tidak ada potongan administrasi per bulannya, tapi tetap ada potongan dari bunga deposito yang nasabah dapat.

Alhamdulilah, akhirnya tabungan yang saat itu gw dan si pacar (yang sekarang berstatus suami) kumpulkan, lebih dari cukup untuk membuat sebuah resepsi sederhana, dan ga perlu merepotkan orang tua. Rasanya sunguh, senang banget dan bangga!

Dari sana, gw mulai belajar untuk menabung lebih rutin lagi. Gw mencoba membagi tabungan ke tiga rekening yang berbeda: tabungan jangka panjang (untuk asuransi, kebutuhan persiapan melahirkan, pendidikan anak, dan lain lain), dana darurat dan dana konsumsi. Dimana tiap rekening gw buka tanpa fasilitas ATM, kecuali untuk dana konsumsi. Tabungan tanpa ATM ini efektif banget supaya gw yang hedon ini ga lupa diri dan asal main gesek seenaknya. Selain itu, tabungan tanpa ATM juga mengurangi potongan biaya administrasi dari bank per bulannya. Hihihi.

Jadi biasanya, ketika gaji turun di akhir bulan, gw langsung transfer dana ke rekening tabungan dulu, baik tabungan jangka panjang dan juga dana darurat. Ketika hak untuk tabungan dan kebutuhan wajib lainnya sudah terpenuhi, baru deh sisanya bisa dipakai untuk kebutuhan konsumsi pribadi.

Untuk kebutuhan konsumsi, apalagi buat perempuan ya bok, dimana kebutuhan dan keinginannya tak terhingga, sebisa mungkin gw menghindari yang namanya hutang atau kredit. Sebutlah gw ga kekinian, sampai sekarang gw ga punya kartu kredit. Kalau untuk tipe yang stabil, bisa nahan diri dan tahu batas pasti ga masalah, tapi buat tipikal orang macam gw, bisa bisa di akhir bulan hutang gw melebihi limit seharusnya. Dan ini ga cuma akan merugikan gw secara finansial, tapi psikologis juga. Hiii.  Makanya sebisa mungkin, barang konsumsi yang gw inginkan ya diusahakan gw bayar tunai, ga perlu kredit. Kalau uangnya belum cukup terkumpul, ya sabar dulu sampai uangnya bisa cukup untuk beli barang yang diimpikan. Kalau barangnya udah ga ada saat uang sudah terkumpul, gimana? Ya sudahlah ya, anggaplah belum rezeki. *ceritanya lagi bijak*

Selain di tabungan bank, cara paling konvensional yang diajarkan suami dan gw terapkan sekarang ini adalah celengan tabungan 20,000! Jenis tabungan kaya gini butuh banget keikhlasan dan komitmen tinggi. Gimana sih sistemnya? Jadi, isi celengan ini berupa uang lembaran 20,000an, dimana setiap kita megang uang tunai dan ada lembaran 20,000 di dalamnya, atau saat beli sesuatu ada kembalian dengan pecahan 20,000an, harus diikhlaskan sepenuh hati untuk disisihkan dan masuk ke celengan. Pernah gw makan dan habis 14,000, karena saat itu tinggal selembar uang Rp. 100,000 yang ada di dompet, gw bayar pakai uang itu. Ternyata tak disangka kembaliannya tiga lembaran 20,000!! Apa daya ya, namanya juga udah komitmen, siap-siap deh kembaliannya masuk ke celengan. Hiks hiks. 
Untuk wadahnya sendiri, gw sengaja memakai wadah berupa toples transparan supaya memotivasi diri sendiri supaya lebih giat lagi saat uangnya bertambah.

Tapi memang hasilnya ternyata luar biasa, tiga bulan setelah dijalani, gw bongkar, hitung, dan alhamdulilah ternyata hasilnya lumayan juga! Awalnya bingung, mau dikemanakan ini hasil celengan? apakah lebih baik dimasukkan ke bank atau untuk modal investasi ya?

Hmm.. waktu itu gw kepikiran mengenai dana pensiun, karena jenis pekerjaan yang gw lakoni sekarang tidak menjamin adanya dana pensiun, kalaupun ada ga seberapa. Setelah diskusi dengan suami, dia menyarankan untuk berinvestasi di reksadana. Kenapa reksadana? Karena tujuan gw menabung kali ini adalah untuk mendapatkan keuntungan yang cukup di masa depan, dan tabungan ini gw alokasikan untuk jangka panjang, yaitu 10-15 tahun.  Jadilah hasil celengan ini menjadi pembuka awal gw berkenalan dengan produk keuangan bernama Reksadana. Maklum ya, pemain baru, jadi gw banyak menyerahkan si suami untuk mengelola dana ini dan gw cukup dapat laporannya tiap bulan. Hihihi.

Dan belakangan, gw cukup sering cek website cermati.com, dimana selain banyak informasi mengenai macam-macam produk keuangan, ada simulasi finansial, juga banyak artikel dan tips untuk mengelola keuangan kita sendiri yang sedikit banyak bisa memberi masukan buat gw dalam memilih produk keuangan dan membagi uang. 

Kadang gw menyesal sih, kenapa ga dari dulu ya gw rutin menabung dan mencoba untuk berinvestasi. Tapi demi masa depan yang lebih baik, ga ada kata terlambat kan kakak. :)

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati"




Related Posts

No comments:

Post a Comment