6.17.2014

Rinjani: (4) Segara Anakan dan 12 Jam Perjalanan

Selasa, 27 Mei sekitar jam 1 siang, setelah re-packing, kumpulkan semua sampah yang kita masukkan di botol-botol kosong, perjalanan kita lanjutkan dengan tujuan Danau Segara anakan. Dengan perut mules-mules dan berdarah-darah karena ternyata tamu bulanan gw datang lebih cepat (informasi ga penting, abaikan), kita melangkah turun menuju segara anakan.

Jalur turun menuju Segara Anakan ternyata tak seindah bayangan. Perjalanan yang kita tempuh saat itu sekitar 4 jam! Sebagian jalur berupa tangga berbatu yang jarak antar anak tangga sungguh ga berperiketanggaan! Lebar beneeer! Curiga dulu waktu ngebangun ini tangga, patokannya adalah langkah bule --". Dan biarpun istilahnya "turun" dari Pelawangan Sembalun yang memiliki ketinggian sekitar 2,639 mdpl menuju danau Segara anakan yang ada di ketinggian 2,010 mdpl tetep aja ada tanjakannya biarpun syukurnya ga separah tanjakan di bukit penyesalan.

Tragedi paling ga enak adalah saat kita nanjak dengan posisi Kunti di paling depan dan gw persis di belakangnya, lalu Kunti kentut dan celananya robek di saat yang sama dengan bunyi yang ga bisa dibedain! Sumpaaaaaah, kentutnya Kunti adalah bukti saat lo ga boker berhari-baru, bau kentut bisa super alakazam banget! Sampe Ai yang di belakang aja misuh misuh.



Menjelang sore, akhirnya kita sampai di danau segara anakan yang lagi-lagi sudah ramai dengan tenda warna warni dan beraneka rupa, setelah telepati dengan Pak Ipul, akhirnya ketemu juga tenda kita di dekat jalur menuju Senaru.

Rabu, 28 Mei 2014

Besok paginya, kalau di Pelawangan Sembalun nyeruput kopinya sambil memandang segara anakan di bawah  sana, sekarang saatnya nyeruput kopi sambil memandang  segara anakan tepat di depan mata! Angkat gelasmu kawaaan!!

Siapa yang bisa menolak nyeruput kopi dengan view kaya gini?

Gunung Baru Jari
katakan tidak pada Mie instan. Ahaay!

Celana Kunti yg robek parah
Ga jauh dari tempat tenda kita berdiri, terdapat air terjun plus sumber air panas yang kayanya nikmat banget dipake buat cebar-cebur. Sayang, saat itu kondisinya rame banget dan (lagi) ada oknum pendaki ga bertanggung jawab yang ninggalin "jejak" ga jauh dari sungai! Sumpaaah, orang macam gini nih yang minta dirajam rame-rame! Dan ga punya otak yang punya kapasitas cukup buat mikir bahwa aliran sungai itu digunakan untuk minum banyak orang!!

Segernyoooo! (Sebelum gw liat "jackpot")
Empat hari di Rinjani, dan ternyata perut gw dan Manda berkonspirasi untuk berontak minta dikeluarin. Bermodalkan sekop yang emang kita bawa, plus hasil ngebujuk Kunti buat minjemin fly sheetnya buat bikin "lapak". Awalnya Kunti ogah minjemin fly sheet oren kesayangannya, karena katanya takut 'kecipratan', tapi karena kayanya ga tega ngeliat muka gw sama manda yang udah pucet (tapi gw rasa dia lebih ga tahan sama kebawelan kita yang ngerongrong harus boker sekarang juga, hahaha).

Foto dulu sebelum melaksanakan "panggilan alam"
Beruntung kita punya Ai yang baik hati sekali, masih single lagi (promosi :P), dengan fly sheet di tangan, Ai ngebangun lapak buat kita tersembunyi di tengah ilalang, sementara gw dan manda menggali lubang.

Aaaaah, tunai sudah tugas terbayarkan, gw dan manda pun kembali ke tenda dengan hati riang.

Masak-masak, makan, foto-foto, sekitar jam 12 siang, bawa air yang banyak,  saatnya dadah dadah cantik ke Segara anakan.

Sebenernya rencana awal, kita akan nginep 1 malam lagi di pos 2 senaru, tapi akhirnya kita batalkan karena temen kuliah, Kurkur yang sekarang berdomisili di mataram dan rencananya akan ngejemput kita di senaru lawang udah dateng dan menyarankan buat langsung turun aja karena katanya ga terlalu jauh *lempar carrier ke Kurkur*.

Yak, darisini, penderitaan jalan dengan track panjang selama 12 jam pun dimulai, karena harus melewati tanjakan tiada henti dari segara anakan sampai Pelawangan Senaru. Yang paling berdarah-darah adalah tanjakan PHP dari batu ceper menuju pelawangan senaru, biarpun pemandangannya bikin berdecak kagum, jalurnya ga kalah bikin berdecak. Jalur dibuat melintasi pinggiran lereng curam dan berbelok,-belok, jadi saat kita pikir "oh, tanjakannya udah beres, sebentar lagi juga pelawangan senaru", jengjengjeng, anda tertipu! Masih banyak tanjakan menanti, jenderaaaaal! Hati hati juga dengan pembatas besi yang rapuh, salah pegang, yang ada malah jatuh ke jurang.

Segara anakan dari atas Batu ceper

yak mari dilihat jalurnya!


Hosh hosh, perjuangan menuju Pelawangan Senaru
Setelah melewati Pelawangan Senaru, jalur selanjutnya  turuuuun terus, tapi dengan tekstur tanah berpasir dan penuh debu, ada baiknya pasang masker disini.

Perubahan ketinggian keliatan banget dari vegetasi di jalur yang kita lalui saat menuruni Pelawangan senaru, mulai dari perbukitan yang minim vegetasi sampai akhirnya kita memasuki hutan (yang mengingatkan gw akan halimun) menuju Pos 3 yang saat itu kalo ga salah, udah menjelang magrib. Karena perubahan rencana, akhirnya di Pos 3 kita istirahat kilat buat makan malam, isi energi untuk melakukan perjalanan panjaaaang sekaliiiii., ga lupa berdoa untuk perjalanan malam ini.

Cieee Kunti cieeee.
Di tengah perjalanan dari Pos 3 menuju Pos 2, ada satu orang pendaki yang kucluk kucluk ternyata ikut di belakang kita. Di tengah jalan, kring… kring… dia dapet telepon dari temennya, pembicaraan singkatnya: "…. Iya ini gw lagi perjalanan turun, eh, ga ganggu kok, gw juga lagi turun sendirian nih". Naaah, kata-kaa terakhir si pendaki ini agak-agak gimanaaa gitu di kuping. "gw turun sendirian", sementara kenyataannya dia ngekor di belakang tanpa macam kata pembuka, "bang, barengan ya", "bang, mau turun ya, saya bisa ikut?".  Atau apa kek yang paling ga menunjukkan etika. Mungkin menurut dia kita ga keliatan, makanya dia bilang "turun sendirian" *edisi sensitif lagi datang bulan*

Sayangnya, kejadian yang sama terulang lagi seetelah kita melewati Pos 2 menuju Senaru Lawang, kali ini 2 pendaki, awalnya mereka juga ngekor di rombongan pendaki lain, dan saat rombongan pendaki tersebut istirahat, mereka berparasit di rombongan lain. Tadinya kita pikir mereka mau duluan, jadi kita melipir ngasih jalan buat mereka, ternyata mereka malah diam di tempat, kita istirahat, mereka ikutan, kita lanjut jalan, mereka juga ikut. Tapi ya itu… ga ada basa basinya. Untung tujuan kita turun ke Senaru Lawang, kalau mereka main ikut aja dengan tujuan beda, gimana cobaaaa?

Dua kali kejadian, kunti pun ga tahan dengan sikap mereka, tukeran posisi, gw megang GPS di posisi paling depan, dan kunti di belakang "ngobrol" dengan 2 pendaki itu pake bahasa Jawa (karena sepanjang jalan mereka ngoceh pake bahasa Jawa). Lain kali lebih sopan ya dek.

Setelah jalan supeeeerrr panjang, otot-otot paha juga udah teriak minta istirahat, dan akhirnya kelihatan juga gerbang Senaru Lawang. Alhamdulilaaaaah, akhirnya kaki bisa selonjoraaaaan.

Kurkur yang baik hati pun sudah menunggu di Rinjani trek Centre (RTC), sekitar 1.5 km dari Senaru Lawang. Yak, mari kita gunakan sisa-sisa tenaga terakhir demi ketemu Kurkur dan menuju penginapan yang ternyata guest house di pusat informasi Taman Nasional Gunung Rinjani.

Akhirnya pendakian Rinjani, yang buat gw adalah pendakian dengan jalur terpanjaaaang, berakhir dan ninggalin banyak banget cerita selama perjalanan bareng Manda, Ai dan Kunti *peluk satu satu* :).


Related Posts

3 comments: