6.14.2014

Rinjani: (3) Tentang Kemauan dan Kebersamaan

Summit attack! Beres makan malam sekitar jam 7, kita berempat siap-siap bobo cantik lebih awal karena berencana melakukan pendakian ke puncak dini hari nanti. Bekal air, makanan ringan, baterai cadangan dan obat kita masukkan ke satu backpack. Sementara kita muncak, Pak Ipul akan bantu kita jaga tenda dari ancaman Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang emang banyak mencari makan di Pelawangan Sembalun.

Jam 11 malam, Ai dan Kunti udah bangun dan siap siap ganti kostum, sementara gw dan manda masih asyik guling-guling di sleeping bag masing - masing secara kita udah ganti kostum dari sebelum tidur. Hehehe. 11.45 malam, kita keluar tenda, cek perlengkapan juga head lamp masing masing, ga lupa berdoa demi kelancaran dan keselamatan bersama. Bismilah.

Ada yang tau lagu "bintang kejora" mari nyanyi bersama-sama!

Sudah ada beberapa titik cahaya di jalur menuju puncak saat kita memulai perjalanan. Ga perlu tergesa-gesa, yang penting pasti dan atur napas dengan baik. Gw lupa berapa lama, tapi 2 jam pertama bisa kita lewati dengan baik dan jalur masih berupa tanah berpasir. 3 jam berikutnya adalah yang paling berat, melewati tikungan menuju kaldera terbuka, jalur mulai menyempit, tekstur tanah yang berpasir dan berdebu menyulitkan kaki untuk melangkah, satu langkah maju, dan srooot, kembali turun setengah langkah. Begitu terus. Ditambah lagi angin yang kencangnya, serius, dingin luaaaar biasaaaa!!! Tip: Persiapkan pakaian yang layak sebelum melakukan pendakian ke puncak. Usahakan baju didouble, ditambah jaket atau wind breaker kalau ga mau hipotermia, plus pakai sarung tangan dan masker. 

Jalur ke puncak ini benar-benar menguras tenaga, dan butuh kesabaran serta motivasi ekstra. Kunti sempat tepar di tengah perjalanan karena kedinginan. Akhirnya kita cari batu besar hampir di pinggir jurang untuk melindungi diri dari angin yang benar-benar kencang, istirahat dulu, saling menyemangati supaya bisa sama-sama mencapai puncak. Toh puncak rinjani ga akan kemana - mana, kondisi kita yang harus dijaga. Gw dan teman teman mengatur ritme dengan cara naik 5 langkah dan berhenti untuk atur napas, begitu terus sambil hidung srat srot narik ingus, mata mulai bengkak kena debu sementara harus tetap fokus melangkah sambil memperhatikan jurang di kiri-kanan.

Jam 5 pagi. Akhirnya langkah ini berhenti di titik tertinggi! Sejenak, kita berempat melindungi diri dari angin yang ga bersahabat di balik bebatuan sambil cek kondisi masing masing.

Dinginnya uedaaan!!
Permainan warna matahari terbit di titik tertinggi ketiga Indonesia ini kembali menyadarkan gw betapa bersyukurnya gw lahir dan hidup di tanah ini. Saat matahari sudah lebih terang, lebih merinding lagi saat melihat segara anakan yang serius, indah banget! Ditambah siluet gunung Agung dan Tambora di kejauhan, plus bonus gugusan 3 Gili di kejauhan! Mari kita mengucap syukur bersama sama :)

Menjelang pagi di Puncak Rinjani

Pengejar matahari

Segara anakan dengan latar Gunung Agung di kejauhan

Puncak yang ga seberapa luasnya ini penuh dengan para pendaki. Bahkan untuk foto di titik triangulasi dengan patokan bendera merah putih dan plat "Rinjani 3.726 mdpl" pun harus antri! Untungnya, semua pendaki bisa saling bekerjasama *saluuut!!*, ga saling dorong, sikut kanan sikut kiri macam di commuter line *curcol*.


The moment :)
Cukup 2 jam kita berempat menikmati pagi di puncak Rinjani, jam 7, kita memutuskan buat turun karena selain ngasih lapak untuk pendaki yang baru datang, kita juga ngejar waktu untuk turun ke segara anakan di siang harinya. Mari lanjutkan perjalanan!

Perjalanan turun memakan waktu jauuuuh lebih cepet dibandingkan saat menuju puncak karena bisa dilakukan dengan berlari, tapi ini juga harus super hati hati, mengingat kiri kanan jalur sempit ini adalah jurang. Setengah perjalanan, kita berhenti dulu untuk istirahat sambil ngemil dan menikmati pemandangan yang (ga henti-hentinya gw bilang) luar biasa!

Aliran pendaki yang menuju puncak

Ceritanya 5 km :P

Barisan tenda di Pelawangan Sembalun
Jam 9 kita sampai di Pelawangan sembalun, rencana sedikit berubah, yang tadinya mau berangkat jam 10 ke Segara Anakan berubah jadi jam 1 siang karena kita tepaaar. Guling-guling dulu di tenda, tidur-tidur ayam dan makan siang dulu sebelum berangkat.  

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)
Istirahat siang saat itu ditemani roti keju dan susu serta beragam cerita selama pendakian selama menuju puncak, yang sampai sekarang berhasil bikin gw senyum -senyum sendiri mengingat perjuangan, dan kebersamaan kita berempat menuju puncak Rinjani. 

Related Posts

No comments:

Post a Comment