6.14.2014

Rinjani: (2) Pendakian

It was an amazing trip! Itu yang selalu gw ingat dari perjalanan terakhir gw bersama rekan-rekan hebat: Manda, Ai dan Kunti. Setelah 2 hari perjalanan darat dan laut, akhirnya pendakian dimulai dari Sembalun, satu dari dua jalur resmi pendakian Rinjani selain Senaru.

Menyambung postingan sebelumnya dimana gw dan yang lain terbangun di tengah malam gegara rombongan pendaki yang baru nyampe dan ribut sangat karena ada yang lupa bawa catokan --" *lempar granat!*. Mari kita abaikan mereka dan kembali fokus ke cerita. 

Hari Minggu, 25 Mei, kita mulai beres-beres, re-packing carrier masing masing dan ketemu bapak porter bernama Pak Ipul yang akan bantu kita membawa logistik tim selama pendakian. Sekitar jam 8.30, kita pamit ke keluarga Pak Tika, dan berangkat menuju base camp Sembalun sebagai titik awal untuk pendakian cari pick up menuju gerbang masuk kawasan. Lagi-lagi, mari gabung dan pete-pete dengan rombongan pendaki lain supaya harga sewa pick-up bisa lebih murah. Jarak dari base camp Sembalun ke gerbang, lumayan juga kalau jalan kaki, apalagi ditambah beban di punggung, saran paling bijak yang bisa gw ajukan adalah: jangan ragu buat sewa pick up! Energi bisa disimpen buat pendakian yang panjang ini.

Saran lain yang ga kalah penting adalah ga peduli lo semacho apa, sun screen itu penting gan! Masker, slayer, topi, dan kacamata sama pentingnya, secara medan yang bakal dihadapi berupa padang sabana luas tanpa vegetasi tiada bertepi. Pemadangan umum banget liat cowo-cowo sibuk ngoles ngoles muka pake sun screen disini. Cucok ya cyiiin!

Target kita di hari pertama pendakian ini adalah sampai di pos 3 Pada Balong dan ngecamp disana sebelum melanjutkan ke Pelawangan Sembalun.

Foto mainstream
Jam 10, foto-foto dulu di gerbang, berdoa dan mari kita mulai pendakian! Bismillah. Dari awal pendakian, pemandangan perbukitan yang membentang sungguh luar biasa, padang sabana yang ga bertepi ini juga ga kalah menarik (dan panasnya). Beruntung, hampir di sepanjang perjalanan pendakian kita waktu itu, kondisi cukup berawan, jadi matahari ga terlalu terasa menyengat. Setelah 2 jam berjalan, akhirnya kita memutuskan untuk istirahat dulu di pos 1. Lumayanlaaah bisa selonjorin kaki. Sudah banyaaak sekali pendaki disana, dan sampahnya apalagi.. ga nyangka, masih banyak pendaki yang masih belum bertanggungjawab terhadap sampahnya masing-masing T___T. gw mikir, ini baru di pos 1, apalagi di pos 3 sana --"

Bentangan perbukitan mulai kelihatan dari awal pendakian

Sabana luas yang ga ada ujungnya


Kabut selama pendakian menghalangi panas yang menyengat

Sekitar 20 menit istirahat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 2 yang berjarak sekitar satu jam dari pos 1, karena udah sekitar jam 1/2 2, kita memutuskan untuk makan siang disini sebelum melanjutkan ke pos 3. Pos 2 jauuuh lebih ramai dibandingkan pos 1, karena ada sumber air juga disini, banyak pendaki yang istirahat lebih lama sekalian isi amunisi sebelum menuju Pos 3.

Rame euy!

Isi amunisi dulu sebelum lanjut ke Pos 3
Beres makan, mari gunakan energi buat nanjak ke Pos 3 yang membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Sebelum sampai di pos 3, kita melewati pos ekstra dimana udah banyak rombongan pendaki yang membangun tenda disana, karena sumber air lebih dekat darisana daripada dari pos 3, dan juga katanya Pos 3 udah padat dan susah buat cari lapak ngebangun tenda. Tapi karena dari awal, tujuan kita memang ngecamp di Pos 3, perjalanan kita lanjutkan lagi. Daaaan jeng jeng jeeeeng! Pos 3 udah ramaaaai sekali sama tenda berwarna warni. Setelah ngecek beberapa spot, sambil ngomel liat banyaknya sampah dan sisa makanan bekas pendaki sebelumnya, akhirnya  kita bersih-bersih lapak di samping pos permanen dimana dengan dodolnya ada rombongan pendaki yang bikin tenda "literally" di pos 3. Setelah ditegur oleh beberapa porter yang kebetulan lewat, tenda yang sudah hampir jadi itu akhirnya mereka pindahkan ke lapak lain. Pelajaran nih buat kita semua: jangan membangun tenda di pos permanen, karena mari kita pikirkan nasib rekan-rekan pendaki lain yang kemungkinan kemaleman, super lelah, cari tempat mau istirahat, tapi  ga bisa karena udah ada tenda di atasnya. Seperti kata Mars Rimbawan (tsaaah.. kurang patriotik apa cobaaaa gw) " jauhkanlah sikap kamu yang mementingkan diri". 

Akhirnya, pos 3
Pemandangan ga biasa lainnya adalah saat seorang porter melintas sambil ngerek 2 ekor kambing di belakangnya! Gw pikir itu buat sajen, ternyata itu pemintaan khusus tamu bulenya buat barbeque an di Segara anak. Ealaaaah.. ga kebayang perjalanan yang harus dilalui si kambing dari bawah, melintasi bukit-bukit, nanjak tiada henti sampai akhirnya harus berakhir di tusukan sate. Semoga kalian tetep sehat ya mbing.

Doaku bersamamu, mbing
Tenda beres, makan malam hampir siap, saatnya gw dan manda cari lapak buat pipis. Bukit berilalang di belakang tenda kita jadi tempat strategis banget buat melaksanakan panggilan alam, tapi ternyata udah buanyak pendaki yang berpikiran sama dan sayangnya, banyak yang bertanggungjawab meninggalkan tisue dan tisue basah disana. Plis, plis plis buat kita semua, mari jadi pendaki yang bermartabat dan bertanggungjawab. Ga ada petugas yang reguler bersihin sampah disini! Dan itu sampah bekas lo, seberapa berat sih buat dibawa turun!! Grrrr!!!!

Senin, 26 Mei, sekitar jam 9 kita melanjutkan perjalanan dengan tujuan Pelawangan sembalun. Energi yang dikeluarkan hari ini akan lebih dahsyat daripada kemarin secara medannya pun ga main main. Jangan lupa bawa air yang banyak untuk bekal perjalanan. Ga jauh beda dengan medan yang kita lalui dari awal pendakian, kali ini medannya juga tanah berpasir dan kerikil. Selain melewati tujuh bukit penyesalan yang terkenal ga ada habisnya,  jalur menuju Pelawangan Sembalun kecuramannya mencapai lebih dari 45⁰ (kata GPS)!! 

Lihat tenda di sebelah kanan? abaikan. Tengok carrier biru di kiri, nah iya, itu jalurnya :D
Yosh! Persiapan mental gw rasa ga kalah penting dari persiapan fisik, karena kita ketemu beberapa pendaki yang udah drop duluan di tengah jalan liat medan di depan. Semangat mbaaa! Tip paling bagus saat melewati jalur yang perih tiada bertepi ini adalah: jangan nengok ke atas! Dengan tanjakan, tanjakan, dan tanjakan yang ga ada habisnya, bukan ga mungkin mental drop duluan saat lihat cover bag berwarna warni masih merayap jauuuh di atas kita. Kabut yang turun kadang membantu kita untuk menutupi kenyataan bahwa masih panjang tanjakan yang harus ditempuh, jenderaaal!!

naik.. naik.. ke puncak gunung 

Lemaskan otot dulu

Bonus track!

Lagu Ebiet pun menggema: perjalanan ini...

Senyum dulu, mengabaikan fakta tanjakan masih menunggu di depan mata
5 jam perjalanan, dan 500 meter terakhir adalah yang terberat! Akhirnya kita berempat sampai di tanah datar Pelawangan Sembalun  dimana muka gw udah berseri-beri saat ketemu Pak Ipul yang udah nongkrong dengan manisnya. Kirain bakal bikin tenda di tanah datar itu, ternyata kita masih harus jalan lagi ke arah selatan kurang lebiih 1 km supaya lebih dekat dengan sumber air dan jalur menuju puncak. Kampret! Dengan iming-iming pemandangan yang lebih okeh, akhirnya kita menyeret kaki menuju area datar Pelawangan Sembalun di ujung rute sebelum Puncak.

Pelawangan Sembalun. Tenda kita? masih di ujung sana
Ih wooow, ternyata emang benar pemandangan sore hari disini luar biasa. Sementara bapak rumah tangga sibuk nyiapin makan malam, gw dan manda kabur dari tanggung jawab dan melipir ke tebing kecil di belakang tenda dengan pemandangan luas segara anakan di bawah sana. Duduk manis menunggu sore sambil seruput kopi ditemani sapuan awan dan cantiknya segara anakan. Kebayar sudah perjuangan tadi siang. Alhamdulilah :)


Sore di Pelawangan Sembalun

Related Posts

No comments:

Post a Comment