6.12.2014

Rinjani: (1) Perjalanan

Akhirnya salah satu mimpi sejak gw kuliah Alhamdulilah tercapai: menggapai Rinjani (ceileeeh judulnya…). Nah semoga kalian yang ga sengaja nyasar, kepo (yaaa… sapa tau gitu), dan emang rutin mampir (macam gw sebagai admin) ga menyesal ngebuka postingan ini yang bakal terbagi jadi beberapa postingan, mulai dari perjalanan, pendakian, kerusakan sampai budgeting (nah, yang ini emang request dari temen yang malu disebut namanya. Mari sebut saja bunga). 

Happy reading dan semoga bermanfaat ^^

Tanggal merah yang saling terjepit di akhir Mei kemarin menjadi waktu pilihan terbaik buat gw dan 3 teman perjalanan dari masa kuliah (Ai, manda, Kunti) untuk bablas ambil cuti seminggu demi niat mendaki Rinjani (err.. ga jadi terbaik ternyata, karena ratusan pendaki punya pikiran yang sama untuk memanfaatkan waktu tersebut, hehe). Wacana sih sebenarnya udah mulai dari akhir tahun lalu, tapi pergerakan cari tiket, buat itinerary, atur jadwal dan lain-lain baru kita mulai kira-kira sebulan sebelum pendakian. Secara tiket pesawat PP yang sungguh, ga sehati dengan kantong, akhirnya perjalanan direncanakan menggunakan kereta ekonomi dari stasiun Ps. Senen ke Solo dengan KA Brantas, dan lanjut Solo - Banyuwangi dengan KA Sri Tanjung. Karena kita bakal naik kereta, rencana perjalanan kita tambah 2 hari untuk perjalanan darat.

Secara, gunung sakral ini tingginya ga main main dan ternyataaa umur emang ga bisa bohong, dari sebulan sebelumnya kita udah saling wanti-wanti buat olahraga. Kebetulan kita berempat emang kerja di lapangan semua, jadi bisalah aktivitas kerja dianggap olahraga (jangan diikutin, ini excuse belaka :P). Gw di halimun, ai di tinjil, manda di palangkaraya, dan kunti saat itu proyekan entah di belahan indonesia sebelah mana.

H-1. Gw dan 2 laki-laki single (sekalian promosi, siapa tau temen gw laku :P) belanja sebagian logistik di Bogor, sebenarnya, kita udah buat semacam daftar belanjaan yang harus dipenuhi, tapi apa daya, 2 pejantan ini hasratnya menggebu-gebu banget buat belanja, semua barang yang ga ada di list mereka beli, excusenya sih perbaikan gizi --"

Hari H.

Tragedi pertama terjadi di stasiun pasar senen karena kedodolan gw. Setelah cekakak cekikik cerita ngalor ngidul, mendekati jam keberangkatan, Ai, sang komandan bagian transportasi nagih KTP dimana ketika manda dan kunti mengeluarkan KTP dengan santai dari dompet, gw cuma bisa bengong dan sadar kalo gw ga bawa dompet! Yang artinya gw juga ga bawa KTP! Kenapa gw bisa sedodol ituh? Karena buat trip kali ini, gw cuma masukin kartu ATM dan uang cash ke plastik kecil, tanpa sadar kalo gw ga bawa tanda pengenal apapun! Jengjengjeng! Ai panik, manda bengong dan kunti masih makan nasi bungkus. Akhirnya datanglah solusi mendadak setelah gw ngecek foto-foto di HP dimana untungnya gw nyimpen foto KTP plus foto passport. Misi selanjutnya adalah nyeret Kunti untuk temenin gw cari babang print dan fotokopi yang punya akses bluetooth karena gw ga bawa kabel data *keplak lagi kepala sendiri*. Ga jauh dari stasiun, akhirnya gw berhasil transfer foto ke mba - mba fotokopian yang canggih, print berwarna KTP dengan ukuran sebenarnya, dan dilaminating! Resmilah gw menjadi warga negara indonesia edisi fotokopi. Yes, problem solved! Rintangan selanjutnya adalah cari petugas tiket berbentuk babang babang, bukan ibu ibu, nunjukin itu KTP abal-abal dengan muka manis dan memelas. And yeah, It works!

Ini sebelum gw menyadari gw satu-satunya yang ga bawa KTP --"

KA Brantas datang tepat waktu, dan berangkat tepat waktu juga. Ini adalah pertama kalinya lagi gw menggunakan KA ekonomi, setelah terakhir menggunakan Tegal Arum dengan tujuan Tegal tentunya, waktu mau ke Slamet, dan Matarmaja, waktu ke Malang. Dimana kedua KA tersebut dari bentuknya aja (waktu itu) udah sungguh meragukan, ditambah kenangan buruk tentang rombongan babang-babang yang ga ada abisnya mulai dari yang semprot kursi pake pewangi yang aromanya alakazam, babang sapu, diikuti pengamen yang maksa minta receh di belakangnya, plus tukang minta-minta. Nah, berdasarkan pengalaman itu, gw udah prepare recehan sebanyak mungkin. Sebut gw norak, ternyata KA ekonomi sekarang lebih beradab cyiiiiin. Ada colokan di setiap kursi ditambah AC yang bertiup semilir di setiap gerbong. Jangan lupa beli bekal makan malam dulu sebelum berangkat, secara udah ga ada lagi ibu-ibu yang jual nasi + (anak ) ayam di dalam KA.

KA Brantas berangkat pukul 16:10 dan kita sampai di stasiun Solojebres pukul 3. 30 pagi buta. Stasiun ini dari arsitekturnya mirip-mirip sama St. bogor, kecuali dimana semua orang berbahasa Jawa, bukan bahasa Sunda. Sayang, toiletnya belum sebagus stasiunnya. Sekitar jam 5:30, kita keluar stasiun demi mencari sarapan, plus beli bekal untuk makan siang dan malam. Misi lainnya adalah cari tempat buat mandi, dan terima kasih untuk pertamina yang membangun pom bensin ga jauh dari stasiun (cukup keluar stasiun, belok kanan dan jalan lurus sampai ketemu pom di sebelah kanan) dan ada kamar mandinya dimana ongkos buat mandi cuma Rp. 2,000 perak sajah. Lumayan, menghemat tisue basah buat perjalanan selanjutnya. Hehe.

Rp. 2,000 buat BAB dan mandi. Rp. 1,000 buat pipis
Rekomendasi untuk bekal makan siang lagi lagi terletak ga jauh dari stasiun, pas di seberang stasiun, ada warung pecel yang bumbunya enak bener seharga Rp. 8,000 sajah sodara-sodara! Silahkeun dicoba. Mungkin, kalau pak bondan ga jadi anggota legislatif dan tetep jadi pembawa acara kuliner, kayanya bisa coba datang ke warung ini.

Bekal, check! Mandi, check!Tiket check! KTP + KTP fotokopi Check! Tinggal melaksanakan strategi yang sama: cari penjaga tiket berupa mas-mas dan pasang muka memelas, and yeah, it works again!!

Belum afdol rasanya kalau belum mengbadikan momen di stasiun ini, secara dari pagi kita mantengin posisi persis di depan plang stasiun solojebres yang merupakan spot terbaik untuk mengambil foto, ga ada tongsis, tripod pun jadi.

Ini pake tripod lho, makanya senyumnya Kunti ga afdol :P
Perjalanan dilanjutkan dengan KA Sri tanjung tujuan Banyuwangi. Hal yang pertama kali bikin gw takjub saat masuk kereta ini adalah banyaknya carrier di tempat barang, ga cuma di satu gerbong, tapi 3 gerbong ke belakang! Sempat ngobrol dengan rombongan pendaki lain dan sepertinya, pendaki pendaki di 3 gerbong ke belakang memiliki tujuan yang sama: rinjani! Makjaaaaaan….

Ih wooow...
Perjalanan kurang lebih 12 jam yang harus ditempuh membutuhkan pantat super yang siap duduk berjam-jam. Secara ruang antar kursi di KA ini ga terlalu luas, sementara kaki gw dan ai yang panjangnya kelebihan, harus rela kusut selama perjalanan.

Akhirnya sekitar jam 9 malam, kita tiba di St. Banyuwangi yang punya toilet okeh punya! Mari selonjorkan badan sebelum melanjutkan perjalanan, dan sungguh rasanya nikmat betul! Dari stasiun Banyuwangi, kita bisa jalan kaki menuju pelabuhan Ketapang untuk menyebrang ke Pulau Bali. Keuntungan dari banyak pendaki dengan tujuan yang sama adalah jaminan ga bakal nyasar! Tinggal ikuti aja pasukan kura-kura dan sampailah kita di pelabuhan Ketapang.Perjalanan yang ditempuh sekitar 1 jam, tenang tenang, antimo belum dibutuhkan disini. 

Sampai pelabuhan Gilimanuk, rintangan selanjutnnya harus gw hadapi: pemeriksaan KTP. Untung waktu itu sudah tengah malam, petugas cuma nanya tujuan dan alhamdulilah gw ga dideportasi ke Pulau Jawa. Keuntungan lain dengan banyaknya pendaki yang punya tujuan sama: ga susah menemukan bis menuju pelabuhan padang bai setelah keluar pelabuhan Gilimanuk, dan bersyukurnya, bebas calo malam itu dengan harga yang udah fix disepakati semua pendaki di satu bis. Bis menuju Padang bai sudah menunggu dan penuh dengan rombongan pendaki yang mukanya familiar (secara udah ketemu di kereta). Jumlah calon penumpang yang mayoritas pendaki dimanfaatkan dengan baik oleh supir dan kernetnya dengan cara memasukkan kita semua ke dalam mini bisnya semaksimal mungkin bersama carrier carrier segede dosa. Jadilah kita pepes panas di tengah malam selama perjalanan 4 jam dimana zikir yang banyak diperlukan dalam perjalanan yang super ugal-ugalan.

Suasana bis Gilimanuk - Padang Bai
Akhirnya sampai juga di Pelabuhan Padang Bai. Mayoritas pendaki memutuskan untuk istirahat dulu, meluruskan kaki yang kram akut selama perjalanan, termasuk Kunti yang selangkangannya ga bisa nutup karena harus rela nyelipin carrier di antara selangkangan selama perjalanan. Semoga masa depanmu tetap cerah, nak. Dengan mata masih 5 watt, kita melangkah ke pelabuhan Padang Bai, langsung beli tiket dan menuju ke kapal yang ukurannya lebih besar kalau dibandingkan kapal dari Ketapang - Gilimanuk. Lagi, kapal kali ini dipenuhi pendaki dari Jawa dan Bali. Mari cari posisi dan tidur cantik (lagi). Perjalanan kali ini disponsori oleh antimo, secara, perjalanan memakan waktu 4 - 5 jam dengan ombak menggila (kata Ai yang ga minum antimo).

Lihat kaki yang selonjoran? Bukan, itu bukan kaki gw :P
Pagi-pagi sekitar jam 6:30 WITA, kapal bersandar di pelabuhan Lembar. Keluar pelabuhan dan disambut serbuan calo super gigih yang menawarkan rental taksi dalam bentuk mobil macam avanza dan xenia. Abaikan dan hati-hati sama calo disini yang sering maksa. Gw, ai, manda dan kunti lebih memilih pasang muka lempeng, seolah olah udah tau tujuan selanjutnya dan memutuskan untuk keluar pelabuhan dulu buat isi perut. Ketemulah satu warung makan di luar gerbang pelabuhan yang lebih sepi calo dan wangi serundengnya mengundang. Sempet nanya-nanya sama ibu warung mengenai transportasi menuju tujuan selanjutnya: terminal Mandalika plus ongkosnya. Dan si ibu menyarankan jalan sedikit ke dekat Indomaret, biasanya ada angkutan yang nawarin ke terminal Mandalika. Menuruti petunjuk si ibu, jalan deh kita ke indomaret, ketemu pendaki lain, dan berencana pete-pete buat carter mini bus ke terminal Mandalika. Perasaan sih baru merem, tapi kok ya ga terasa udah sampai aja di terminal. Dari sana, kita transfer ke semacam mini bus lagi yang disebut "engkel" menuju pasar Aikmel, untuk belanja logistik macam sayuran dan beras sebelum ke titik awal pendakian: Sembalun.

Mini Bus Lembar - Mandalika

Pasar Aikmel yang mulai sepi

Beres belanja, makan siang, saatnya cari pick-up sayur menuju sembalun. Secara kita beres aktifitas di aikmel udah menjelang sore, udah ga da lagi mobil L300, jadilah kita beralih ke pick up sayur. Tetep, tema perjalanan kali ini adalah mari pete-pete sama pendaki lain. Jadi SKSD itu modal penting selama perjalanan. Hehehe. Kali ini kita pete-pete sama 6 pendaki, dengan total 10 pendaki untuk 1 pick up seharga Rp. 200,000 yang berkat pendekatan luar biasa dari Kunti, harga pick up bisa turun menjadi Rp. 170,000 dibagi 10 orang. Yihaaa!

Mari menuju Sembalun!

Dengan total perjalanan sekitar 2 jam dengan pemandangan yang luaaaar biasa, sekitar jam 4 sore kita sampai di base camp Sembalun, dan niat awal setelah registrasi sebenarnya mau numpan nginep di kantor resort, tapi apa daya, kekeringan sedang melanda, air pun jadi barang langka. Akhirnya terpilih alternatif kedua: cari penginapan. Dan salah satu petugas nawarin salah satu rumah penduduk yang memang biasa disewa pendaki. Melajulah kita ke rumah Pak Tika, sewa 1 kamar yang di bagi 2 dan numpang icip-icip abon ikannya yang okeh punya. Oh, ini no. Pak Tika, siapa tau ada yang butuh penginapan di Sembalun: 081917807636. Orangnya ramah, keluarganya juga, bonus abon ikan yang maknyuuus. Buat yang mau sewa peralatan atau porter juga bisa dibantu sama Pak Tika.

Jangan sia-siakan kesempatan! Habiskaaaan!
Perut kenyang, hati senang, tidur pun tenaaaaang sampai…. Jam 2 pagi muncul rombongan 8 pendaki yang baru dateng dan ribut di tengah malam.  Aaaaghhhh!!!



(Bersambung yak…) :P

Related Posts

2 comments:

  1. Terimakasih atas catatan perjalannya, mampir ke blog ini karena ada teman yang minta nomer Pak Tika

    ReplyDelete