11.24.2011

Treat Me as a Mother

Obat stres adalah ketika gw terperangkap dalam dunia nutrisi serta reproduksi, dan PING! Della Rosmeilia Pasha online, kita chatting dan gw tertawa terbahak-bahak sampai rahang kram, karena entah kenapa, setiap kata yang diucapkan teman gw yang maha dahsyat ini selalu bikin gw berdoa kepada Tuhan yang maha esa: Terima kasih Tuhan, telah kau kirimkan manusia ajaib ini untuk sayah.

Berawal dari chattingan antara gw dan Della beberapa hari yang lalu:

Della : Eh, Yu, gw pengen miara uler deh (sebagai informasi, Temen gw ini takut sama segala bentuk binatang berbulu, berkaki empat, berkaki dua-iya ga sih de? dan binatang melata adalah 'pilihan yang tepat sekali'!-pake intonasi nada mba-mba Pizza Hut)

Gw: Hah? (Sampe sekarang gw masih bertanya-tanya kenapa setiap chatting sama siapapun pasti gw awali dengan'hah?')

Della: Iya, gw pengen bisa pelihara dari mulai menetas gitu. Gw pengeeeen! Akhir-akhir ini gw mikir, kalo gw bisa pelihara kayanya seru banget, jadi berasa ada temennya tiap hari! Bisa gw elus-elus terus jalan di badan gw.

Gw: terus kenapa harus dari telor?

Della: (alasan 1) Karena harapan gw kan, ketika dia menetas, gw adalah orang pertama yang dia lihat. And i assume he/she will treat me as a mother. Hohohoho!! 


(Imajinasi gw pun melayang: Della, menunggu dengan penuh kesabaran di depan telor-telor uler, 'krek!' seekor ular pun keluar dari cangkang, melata dengan tertatih-tatih dan dengan mata berkaca-kaca, si ular pun berkata 'mommy'. Della pun terharu, menangis dan memeluk si anak ular sambil berkata: 'iya nak, ini mama'*tali kasih pun terjalin dengan indahnya*)

Gw: (mengingat kondisi gw yang masih semedi di lab, gw cuma bisa ketawa tanpa suara sampe bahu gw goyang-goyang) emang lo pikir dia anak bebek? (teringat penelitiannya Konrad Lorentz soal imprinting behavior-yang belum tau tanya mbah google yak^^)

Picture source from here
Della: (alasan 2) Abisnya kalo gw pelihara udah gede, takut aja dia tiba-tiba buas dan menyerang gw karena dia ga beranggapan gw ibunya.

Gw: Della, biarpun lo jadi emanya uler, tetep aja dia bisa nyerang lo karena instingnya emang gitu kalo terancam (mulai bijak)

Della: Ga bisa yah gw jadi ibunya? T_T (obsesi Della yang baru gw tau kayanya). Eh, btw makannya apa yah?

Gw: mencit-tikus yang warnanya putih ituh. 

Della: WHAAAAAAAT?? (mulai histeris, secara dia takut sama hewan berbulu). Ga ada makanan lain? Ga suka tumbuh-tumbuhan yah, ada ga sih uler herbivora? (catet sodara-sodara: ULAR HERBIVORA)

Gw: (dan ketawa gw pun pecah) MUAHAHAHAHAHA!!! De, seandainya lo berhasil mengubah ular dari predator karnivora jadi herbivora, gw + Bangkai berguru dah sama lo. Kakakakak!!

Mungkin sekarang gw bisa ketawa terbahak-bahak tapi siapa tau, 50 tahun ke depan di kelas pelajaran IPA anak SD seorang guru bertanya pada muridnya:

Guru: Jadi anak-anak, siapa yang tau apa makanan ulaaaar?

Murid: saya buuuu!!!

Guru: Ya, Bambang? (masih ada ga yah yang namanya Bambang 50 tahun lagi?)

Murid: Wortel bu guruuuu!!!

Guru: Benar sekali Bambang! 

Dan dunia perbinatangan pun suram, tikus melimpah ruah dan wortel pun mengalami kelangkaan..

Related Posts

No comments:

Post a Comment