8.30.2011

Eid Mubarak!

According to decision from Korean Muslim Federation (KMF), all of the Muslims in Korea celebrated Eid Mubarak on Tuesday, August 30th 2011. 


May this Eid Mubarak bring abundant joy and happiness in our life.

Happy Eid Mubarak 1432 H. 

Taqoballahu Minna Wa Minkum

Minal Aidin Wal Faidzin.


Pic.by Sigit Aryo Pambudi

8.27.2011

In The Name of Pecel Lele

In the name of Pecel Lele, gw tempuh perjalanan subway nan jauh Seoul - Ansan

In the name of Pecel Lele, gw relakan 2,5 jam ngabuburit dengan bedesakan


In the name of Pecel Lele, gw dan Hesti nyasar di tengah keramaian



In the name of Pecel Lele, di Warung Kartini akhirnya kau kutemukaaaan!!!


Finally, In the name of Pecel Lele, ngidampun akhirnya terbayarkan! Hohohoho!


8.23.2011

Just.. Perfect!

Perfect dinner, perfect companions, perfect place and perfect view. What a perfect night!

Having a dinner with primate' team at my professor's apartment. She's just moved into a new apartment last week and invited our team for housewarming party. The best part is the terrace at top of the building. You can enjoying a beautiful sunset, and night view of Seoul (well, it full with concrete buildings for sure). And like this picture, i never know there's a small patch of park with wooden building close to my university. Should go there someday!





 



Passport

Just read a good article from Jawapos, August 8th 2011 written by Rhenald Kasali, an academic and business practitioner from Indonesia. He is also a professor of Management Science at the Faculty of Economics Universitas Indonesia. Glad to share it, Happy reading :)



PASSPORT

Picture source from here

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya passport. Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu.
*Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang.
*Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.
Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan di antaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang
yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.
Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan passportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri. 
* The Next Convergence*
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki passport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. 
Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti
menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya passport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan
kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipassportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit.
Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki
pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari passport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara. 

8.18.2011

Shame on Me

Only when the last tree has died and the last river has been poisoned and the last fish has been caught,
Will we realize that we CANNOT eat money?



Pembabatan pohon-pohon tua yang mungkin lebih tua dari kampus itu sendiri di kampus yang mengaku 'Kampus Hijau' dan mengatasnamakan PEMBANGUNAN GEDUNG BARU buat gw, MIRIS! Apa iya kepentingan ekologi ga bisa sejalan dengan kepentingan ekonomi? Apa iya kita harus selalu membangun tanpa perlu kembali menanam? Dan apa gunanya selama ini kita teriak-teriak mengatasnamakan penyelamatan Hutan Indonesia tapi ruang terbuka hijau di rumah sendiri habis dibabat? Shame on me...

8.17.2011

Long Live Indonesia!!

Indonesia, my nationality
My nation and my homeland
Let us exclaim
"Indonesia Unites!"

Long live my land, Long live my state
My nation, My people, entirely
Let us build its soul, Let us build its body
For the great Indonesia


PROUD TO BE INDONESIAN!



8.16.2011

Nusa Kambangan

Kalo ada yang bilang rasanya ada yang kurang kalo kuliah ga ngekos, itu bener banget! Well, kecuali buat yang rumahnya tinggal ngerangkak ke kampus kayanya. Kurang lebih tujuh tahun gw hidup di Bogor, kota ini selalu manggil gw balik lagi padahal gw tinggal di Depok, hehehe yang sebenernya cuma 1,5 jam perjalanan:naik keretanya sih cuma setengah jam, 2 kali pindah angkot plus macet yang udah jadi trademarknya Bogor bikin perjalanan ngangkot gw lebih lama dibanding naik kereta. 

4,5 tahun kuliah gw khatam dengan 1 tahun tinggal di asrama kampus yang emang hukumnya wajib buat para mahasiswa baru, berbagi kamar berempat bareng mahasiswa lain yang udah pasti bengong tiap sabtu minggu liat gw packing + bongkar barang kelontongan (matras, misting, sleeping bag, indomie, kotak P3K + barang wajib anak diklatsar) dan kembali ke kamar dengan badan kaya abis berkubang macem badak. Alhamdulilah ya (pake gaya Syahrini yang lagi ngetrend) temen-temen sekamar gw ikhlas tiap weekend gw ngegelar 'dagangan' di kamar dan kembali dengan bau bangke 7 rupa.

Tahun kedua, gw ngekos bareng temen-temen seangkatan di Mapala + bonus 1 akhwat nan jelita. Dibilang ngekos juga sebenernya kita pete-pete nyewa rumah 4 kamar dibagi 8 = 2 orang per kamar. Rumah bahagia kita ini punya nama 'Cartenz' nama lainnya puncak tertinggi Jayawijaya di Papua. beuuuh, kurang sangar apah coba. Apalagi para penghuni-penghuninya yang tiap malem ngampus dan punya operasi 'sergap spanduk' jadi, di tengah gelapnya malam, kita ambil tuh spanduk-spanduk yang betebaran di kampus dan waktunya udah basi (secara ga langsung kita ngebantu ngebersihin kampus kayanya) buat apah? dijual? gaaa, buat alas tali kernmantle (baca:karmantel) yang biasa dipake buat manjat. Hehehe. Dan yang biasanya jadi korban sendirian di rumah sampe malem adalah sang akhwat nan jelita. Dhenny, dari hati yang paling dalam, maafkan kamiiih!!!

Dan akhirnya tahun ketiga sampe gw lulus, gw dan temen-temen seMapala nyebar dan gw jadi penghuni tetap di Nusakambangan.  Kenapa Nusakambangan? Karena kita ga ketemu kata sepakat buat namain rumah tercinta kitah dan akhirnya salah satu senior ngasih nama 'Nusa Kambangan', ga kreatip yah? tapi kalo sekarang inget nama ini rasanya pengen balik lagi kesana. Rumah ini selalu menyimpan cerita yang paling indah sampe paling bodoh selama gw ngekos dan kuliah. 



DI Nusa Kambangan gw tinggal berlima bareng Tikul, Rofa, Ipunk dan Linda yang sukurnya mereka menerima gw dengan lapang dada dan riang gembira (Umm, gw ga yakin sama yang ini, hehe). Selalu ada cerita tiap kali di otak gw terlintas 'Nusa Kambangan' :

1. Gw, Rofa, Linda dan Ipunk bagaikan keluarga sehat dan bahagia menonton TV bersama, Tikul? sibuk nyuci di kamar mandi nan panjang (Fyi, kamar mandi kita bener-bener spektakuler, kalo kamar mandi lain panjang + lebarnya sebanding, kamar mandi kosan gw cukup panjang doank. Punya badan selebar balon, jangan harap bisa selamat masuk kamar mandi kalo ga nyangkut di tengah jalan. Hehehe). Sekian menit kemudian, keluarlah Tikul dan ikut bergosip ria bareng kita. 20 menit kemudian. Tikul: "Hape gw mana yah?" kita: "meneketehe" Tikul : diem bentar (mikir kayanya) melenggang ke kamar mandi buat nyuci, 20 detik kemudian terdengar teriakan Tikul membahana seantero kosan. kenapah? Jangan-jangan Tikul nyebur bak? apa Tikul berubah jadi ikan duyung??? Bukaaaan!! ternyata Tikul teriak karena nemu hapenya yang udah jadi jenazah ikut kerendem bareng cuciannya. Kalo ada yang nyaingin gw soal kepikunan, Tikul inilah orangnya. Yang sabar ya nak (sambil elu-elus perut, #eh?)

2. Dimana saja dan kapan saja, Linda pantes dapet gelar terajin dari kita. Mungkin kalo isi biodata yang pake hobi + kata mutiara masih jaman, Linda bakal isi di kolom hobi: bersih-bersih, nyuci,ngepel, nyiram taneman dan nyapu. Dan di kolom kata mutiara : "bersih pangkal sehat". Hobi ini berlaku dimana saja. Tahun 2008 kita ikut PKL di beberapa taman nasional (TN)di Indonesia yang lokasinya emang pisah-pisah, satu kali kita bikin teleconference. Semua heboh cerita pengalaman masing-masing PKLnya. pas giliran Linda yang cerita, dia diem, ga ngomong apa-apa. Rofa pun nanya: "Nda, kamu kenapa?" Linda: "Linda kangen..." Kita: Aaaaa, ntar juga ketemu, bla! bla! bla! (heboh, geer berasa dikangenin) Linda: "bukan, Linda kangen beres-beres kosan, kangen nyapu, ngepel, taneman Linda siapa yang nyiramin yah? bla.. bla.. bla.." Kita: siiiiiiing... diam tak berdaya.

3. Kalo musim ujian tiba, kosan gw adalah tujuan utama buat para pemalas tapi hobi motokopi catetan, dan itu termasuk gw. Hehehehe. tapi keuntungan satu kosan sama wanita nan rajin macam Rofa dan linda adalah gw jadi orang pertama yang motokopi catetan mereka. Hohohoho! Jadi, di malem sebelum ujian, gw udah bertengger dengan manisnya di kamar sambil megang fotokopi catetan. Malem sebelum ujian,kosan kita sepi mendadak, hening, pintu kamar tertutup, semua penghuni semedi di kamar masing-masing. Tapi itu sebelum rententan motor berhenti di depan kosan, suara kunci pager dibuka dan terdengarlah sahutan serak-serak basah yang tiada henti: "Assalamualaikum, Linda, rofa, minjem catetan doooonk" Yak! dan kedamaian pun terpecah. Kenapa dulu gw ga kepikiran buka usaha jadi agen fotokopi catetan yah? Tanpa mengusik ketenangan Rofa dan Linda, gw bisa motokopiin catetan dan tinggal nongkrong depan kosan dengan fotokopi catetan di bawah tulisan "GOCENG ajah"

4. Ada yang inget film 1 litre of tears? (baca:segalon aer mata) film yang bener-bener menguras air mata ini jadi saksi dimata kita mewek bersama maraton nonton film ini sampe pagi di kamar Ipunk. Ipunk adalah supplier film terbesar Nusa Kambangan, mulai dari kartun sampe film acha-acha Ipunk pasti ada. dan kamar Ipunk paling gede diantara kita, jadi cocok banged deh buat nonton film ala Nusa Kambangan. Ga heran anak ini lulusnya cum laude #eh, ga nyambung...

5. Menjemur di depan kosan adalah kegiatan favorit kita bersama. Kenapah? karena saat-saat menjemur adalah timing yang pas buat nunggu para gebetan lewat depan kosan. Ahaaay! Posisi kosan gw lebih tinggi dari jalan, jadi pas banged dah jadi lokasi nunggu gebetan lewat. Hehehehe. 

6. Terakhir, satu kebodohan yang pernah gw buat: pagi, 1/2 6, mata gw masih belekan, iler masih berceceran dan gw mo keluar kamar buat menunaikan panggilan alam. Gw berdiri di depan kamar, bengong, liat cowo pake topi lagi nyongkel jendela, si cowo: menghentikan aktifitasnya, ikutan bengong. Gw dan si cowo: sama-sama bengong, tangan gw masih ngelap iler dan tangan si cowo masih nempel di jendela. Sekian detik kemudian, entah kenapa si cowo kaget liat gw dan lari ngelewatin gw secepat kilat. Gw dengan kemampuan sinkronisasi otak yang super lambat ditambah baru bangun tidur baru nyadar 20 detik kemudian kalo ada yang aneh sama situasi tadi. Dan 10 detik kemudian baru gw bisa teriak MALING! telat beneeeer!! Tapi Alhamdulilah ya (kembali Syahrini berbicara) si cowo bertopi itu ga sempet ngambil apa-apa.

Huaah! Masih banyak yang bisa diceritain selama hidup gw berhenti di Nusa Kambangan bareng Tikul, Rofa, Ipunk dan Linda. Sahabat sekosan super hebat yang bikin gw berterimakasih pernah kenal dan semoga akan terus kenal mereka. Tikul, ngajarin gw bersyukur karena ada yang sama pikunnya kaya gw #eh? Rofa ngajarin gw cara nyetrika+ngelipet baju yang baik. Ipuk ngajarin gw supaya ga takut aer dan Linda tetep ngajarin gw dengan motto hidupnya "bersih pangkal sehat". Ketoprak pangkot pedesnya Rofa, wartegnya Tikul Pepaya Uminya Linda + Ikan Bawal raosnya Ipunk,these things also remind me of them.

Ada yang bilang, persahabatan itu kaya pipis di celana, orang-orang cuma bisa liat, tapi cuma kita yang bisa ngerasainnya :)  

Miss my girls.



Efek Garing #1

SIAGA 1!! Siaga 1!!!! Gw mulai merasakan efek garing si pacar!! badan gw mulai kejang-kejang, mulut gw pun berbusa,(lho?) ....... 
.........
sori, kalo yang ini ayan (see!!!! tulisan gw ajah g-a-r-i-n-g). 

Tadi siang gw chatting sama temen kuliah nan okeh punya (karena mao dipaksa follow blog ga penting gw. Hohohoho!!) dan demi kemaslahatan dirinya sebagai korban kegaringan, mari kita sebut ajah temen kuliah gw ini... rini (nama sebenarnya,, lho?) Umm,dan secara ingetan gw rada-rada, kita persingkat aja chattingan ini ke pokok kegaringan gw:

Rini: ... Hahahaha! Gw kena teror nih!

Gw: teror? teror apah? teror rebus.. teror asin.. apa teror ceplok?

RIni: ........................ (hening, dan terdengar suara jangkrik di kejauhan. krik,, krik,, krik...)

Gw: Heee......


8.15.2011

Korean Independence Day

광복 : Happy Independence Day for South Korea!! (August 15th)


Today, South Korean celebrates the national liberation from imperial Japan in 1945 (same with us). On the same day in 1948, the government of South Korea was established. The word 광복 (Gwangbok) means restoration of Light. 

Picture source from here

8.13.2011

When You Spot A Hijabi On The Street


and both of you are grinning like fools from a block away.
you pass each other and exchange salams.
your friends are staring at you awkwardly.
“do you just talk to strangers like that?”
“that’s no stranger. that’s my sister.”

Di satu pedestrian, tanpa kenal satu sama lain, hanya yakin kita dibawah keyakinan yang sama, berbalas senyum dan salam. Sungguh! gw merasakan satu nikmat dariNya.

8.11.2011

MADRE



Madre + tanda tangan Dewi lestari berhasil bikin gw nyengir sepanjang hari ini!! Yaiy!! 
Mood booster di tengah galau dan maboknya gw mikirin proposal riset.
 Selusin terima kasih kali ini ditujukan buat si pacar. car, car, makasih yaaa!!  \\(^0^)//

8.10.2011

One Day Trip to Seosan

I went to Seosan last week with my friend Jacky, she's an exchange student in Ewha during this summer. She'll go back to Taiwan at the end of this month, so before she leave, we made a plan to hang out together and we choose Seosan as our destination. Why Seosan? this city even almost unknown as tourist destination. Well, that's the reason why we choose Seosan. Hehehe, we just want to relaxed and enjoy this summer during weekdays and escape from the crowded for a while without any expectation.

Seosan is a city in south Chungcheong province. It takes about 90 minutes by express bus from Express Bus Terminal, Seoul. The rice fields along the road truly reminds me of Indonesia' countryside, i missed this part :)

At Seosan bus terminal, We met Mike, Jacky's friend and he is an English teacher at Seosan. This is the best part! Since i'm a master of lost and Jacky also have no clue about this city, nothing else we're expected than meet this guy as our guide. Hehehe. He took us to Hameiupseong (Hamei Castle). 



Hamei castle was built between the 17th year of the reign of King Taejong. Now, it listed as one South Korea's historical sites. Mike packed a picnic of cheese, crackers, sandwich and fruits. The grounds are really clean and there is ample grass to enjoy! I can't help myself to rolled around the grass!! Thanks God Mike and Jacky get used to it. Hehehe.



It was not a bright and sunny day, but just lay down in the grass, chatting about unimportant stuff and get relaxed was really fun! Oh, we played an ancient game from the Joseon period. i don't know the name of it but we have to standing about two or three meters from ceramic pot and trying to throw piece of bamboo into it. It's a lot more fun and harder. But it was fun! 






We walked up some stairs into a small hill with a little gazebo at the top and a pine forest!! Again, i couldn't stop myself to climb up the tree!! Yippiee!! 


Without any expectation in seosan, we get more enjoyed and relaxed time, also a new friend for me :) What a lovely day!

8.09.2011

Totoro dan Kuntoro

Kembali lagi bersama kami (gw dan pacar maksudnya) dan obrolan yang semakin penting dari hari ke hari. Kali ini ga ngebahas keoonan gw tapi kegaringan si pacar yang emang ditakdirkan untuk garing sepanjang masa (yah, nasib..):

Gw : Car, theme songnya kartun Totoro keren deh... (mulai autis cerita soal kartun 'My neighbor Totoro yang jelas-jelas si pacar have no idea soal ini)

Pacar : Totoro? (Jeda, kayanya dia mikir) Oooh, Totoro yang temen sekelas kita entu?

Gw : ................ (merasa digaringi) itu KUNTORO!!!

Kalo kata si pacar gw bisa menularkan virus keoonan gw ke dia, gw jadi parno dia bakal menularkan kegaringannya yang maha dahsyat itu ke gw. Tuhaaaaannn!!!!

8.08.2011

A Note From The Apes

Just reblog from http://savetheorang.posterous.com/ a single note from the apes. Once again, it open my eyes and reminds me the habitat loss and poaching are pushing them towards extinction. Real action is needed! Not just to ensure a brighter future for the Orangutans and their habitat, but also for us, the human race.


A Notes from The Apes

We have kept ourselves to ourselves for millennia.
You decided to come down from the trees and go your own way. We admired your bravery.
We could not imagine any other home but the rainforest canopy. We relished our simple life.
Maybe we took too much for granted. We trusted that our evolutionary links would keep us safe. You would be our guardians. The custodians of the world we share.
We have lost much, but not all. We ask you to think before you cut down another tree or take the life of another of our dwindling kind.
There is still time to save us. We missed you when you left the trees. You will miss us when there are no trees left.
From the Orangutan.

8.05.2011

Sedikit...

Kembali ke percakapan ga penting antara gw dan si pacar via Skype (Wahai penemu Skype, jasamu tak terkira #kecup kecup) :

Gw : Kyaa!! Kyaa!! Kyaa!! (dengan heboh cerita soal mupengnya liat tempat wisata yang bejibun disini)

Pacar : (seperti biasa, cuma jadi pendengar setia sampe tiba-tiba...). eh, gw pernah liat tuh di drama korea ada mercusuar sama jalan setapak kesana deket laut, bagus tuh!! bla.. bla.. bla.. (gantian dia yang heboh)

Gw : Hoo itu di Jeju Island! bla.. bla.. blaa.. (kembali ngoceh dengan berbusa sampai...) bentar, liat dimana lo mercusuarnya?

Pacar : (tanpa perasaan berdosa) drama korea

Gw : ......... (mikir, ada yang aneh disini) lo nonton??

Pacar : ......... (jeda superrrrr panjang) dikit...  (suara pelan, merasa berdosa seakan-akan ketangkep basah maling ayam)

Gw : Muahahahahahahhaha!!! (Ketawa super jumawa sampe rahang gw sakit)


   

8.03.2011

Postcrossing Project

It seems a long time since the morning mail could be called correspondence. -Jacques Barzun-


I have a new hobby since 3 months ago : sending and receiving postcards!! Hoho, sounds odd huh? Well, i like the idea and it's kind a unique thing to connected with different people from around the globe (even you don't know them)! Especially in this digital era, when modern technologies took over and you can easily connected via social network, high-speed internet and several digital ways to connected and sooner or later people will forgetting a real mail. The feeling of receiving a real mail like postcards from different countries in this world is really amazing, and to be honest i missed the day when Mr. Postman arrived at my house and gave me a mail from my penpals (i did it when i was in elementary school, hehehe). 

My favorite part from this project are picking the right postcard, receiving postcard  with different types of handwritten (from somebody that you never know before, because it random) also checking my mailbox everyday. Hehehe. So far, i just sent 13 postcards and received 12 postcards within 3 months! So exciteeed!!

A stamp and written from Russia! I never seen it before
Some of postcards that i received :D

One of my favorite, The St. Basil's Cathedral in Moscow-Russia
So, this project provide you a way to connected with people that you never know from random postcrossers somewhere in this world. I able to 'travel' via postcards, reaching some amazing places where i never been there before also sending it back again. I'm not really remember where i got across this thing, but as long as i remember i got lost to Yosiyana blog and somehow i googled the website and getting started to involved. Furthermore, the cost to sending postcards from Korea to everywhere is same, which is 350 won (about Rp. 2,800) Soooo cheap! 

If you wanna get involved and know more about this project, please kindly check this postcrossing project. Truly, it's really fun! 

8.02.2011

For The Sake of Summer

Summer, musim dimana semua orang berlomba-lomba pake baju paling minim. Sedangkan gw, tetap dengan setianya make kaos tangan panjang dan kadang dengan sarapnya di suhu 32°C gw make jeans item, jilbab item dan kaos item (ga dink, kaosnya putih) dan bikin semua temen-temen di lab ga bosen-bosennya nanya 'aren't you feeling hot Ayu?' dan gw dengan lugunya bilang ga, padahal kadang kepanasan juga, hehehe. 

Mereka liat gw aja udah heboh, apalagi kalo liat anak-anak gaol di Jakarta yang panasnya satu tingkat di bawah neraka masih bela-belain pake sweater, cardigan, mantel, jaket, scarf+syal yang kadang digabung jadi satu for the sake of fashion. Ckckckck, bisa ayan di tempat itu orang-orang Korea. 

Demi ketentraman umat di lab yang ga henti-hentinya nyuruh gw ganti kostum (berasa badut gw disini) akhirnya gw pensiunkan juga si jilbab item untuk musim ini dan terpilihlah si celana adem yang multifungsi, yang bisa gw pake keluar karena emang adem banget (tetep berasa angin semilir-milir masuk) dan juga bisa dipake buat tidur karena motifnya mirip celana tidur. Gyahahahaha! Jadi sekarang, pertanyaan anak-anak lab melenceng dari "panas ga sih yu?" jadi "bangun tidur langsung ngelab yu?"

Gw cuma bisa tersipu malu karena ketahuan masih ileran udah langsung ngelab dengan cerdasnya. Dan inilah si celana adem dengan model gw tentu saja yang nampak setengah badan karena beneran baru bangun tidur dan siap ngelab. Hehehe.