12.15.2010

Javan Silvery Gibbon

Seandainya gw ga kuliah di jurusan dengan nama yg panjang x lebar ini (Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata) Fakultas Kehutanan dan ga ngambil spesifikasi di bidang satwa liar mungkin gw ga akan pernah tau keberadaan primata yang punya suara menakjubkan : Owa Jawa (Javan Silvery Gibbon). Even, mungkin gw ga akan pernah tau kalo monyet dan kera itu beda. Emang apa sih bedanya monyet  (monkey) dan kera (ape) ? secara fisik, monyet dan kera sebenarnya bisa dibedakan dari keberadaan ekornya. Monyet itu berekor, sedangkan kera tidak, well.. sebenarnya mereka punya, tapi semu. Terus apa aja yang tergolong monyet ? hemm..  yang biasa dipake untuk topeng monyet itu namanya monyet ekor panjang (Long tailed macaques), keberadaannya emang melimpah sampai belum masuk status terancam, tapi kalo liat eksploitasi jenis monyet ini untuk topeng monyet gw suka ga tega liatnya. 

Kembali ke Owa Jawa, Banyak yang ga tau Owa Jawa itu apa,, terbukti saat gw penelitian S1 di Taman Nasional Gunung Halimun salak (TNGHS), Jawa Barat.  Salah satu fasilitas di TNGHS adalah adanya jalur interpretasi untuk pengenalan flora dan fauna kepada wisatawan. Jalur ini juga jadi penelitian gw karena 1 kelompok Owa Jawa yang gw amati memiliki daerah jelajah sepanjang jalur interpretasi. Satu hari gw ketemu orang-orang  dari Jakarta yang dengan hebohnya nunjuk-nunjuk sambil teriak “ada monyet! Ada monyet!” jiaaah (nepok jidat!) 1 pelajaran saat lo wisata alam adalah jangan pernah teriak-teriak saat bertemu dengan satwa liar, kenapa ?
1. Mengganggu si satwa itu sendiri, masih mending kalo reaksi satwa itu diam atau kabur, tapi gimana kalo dia nyerang sebagai upaya mempertahankan diri ?
2. Si satwa itu bisa stress, jangan dipikir Cuma manusia yang bisa stress. Satwa juga, bedanya saat stress satwa bisa “pup” atau mengeluarkan kotoran/bebauan tertentu. Ga kebayang, kalo manusia stress langsung aja gitu pupi di celana, hehehehe..
3. Mengganggu orang lain (ini sih pengalaman pribadi)

Untung saat itu ada bapak polhut sebagai interpreter yang ngejelasin kalo itu Owa Jawa (Good job pak!).
Owa Jawa ga berekor, jadi dia termasuk kera, spesifiknya lagi dia termasuk kera kecil (small ape) Orangutan, simpanse itu termasuk kera besar (great ape), kita juga lho. Owa Jawa memiliki warna bulu keabu-abuan, saat ini mereka terancam punah, karena keberadaannya yang  cuma bisa ditemukan (endemic) di pulau Jawa (dominasi di Jawa Barat) dan mereka ini termasuk monogamy (1 pasangan untuk seumur hidup) wahai para kaum poligami dan poliandri, belajarlah dari Owa Jawa! Udah gitu, habitatnya pun terbatas Cuma di hutan dataran rendah yang saat ini jumlahnya di pulau Jawa udah sangat langka dan hutan hujan pegunungan yang salah satunya adalah TNGHS.  Tangan Owa Jawa bisa 2x panjang kakinya, hal ini terjadi karena mereka bergerak secara bergelantung pada dahan pohon dengan kedua tangannya dan mereka jarang banget turun ke tanah. 2 bulan gw penelitian belum pernah ngeliat mereka turun ke tanah.











Adorable creatures :)

1 hal yang paling unik dari Owa Jawa adalah kemampuannya mengeluarkan suara sampai sejauh 1 km. suara yang dikeluarkan ini bisa sebagai tanda untuk memberitahukan keberadaan, tanda wilayah teritori dan panggilan untuk mencari pasangan. Gw selalu terpesona setiap mendengar suara mereka, apalagi ketika gw dikasih kesempatan untuk mendengar langsung mereka bersuara. Kerennya lagi, betinalah yang memiliki suara lebih keras dibandingkan jantan. Karena betina adalah pemimpin kelompoknya (wohoo!! Go woman go!). biasanya mereka akan bersuara di pagi hari, sekitar jam 9 – 10an, panggilan ini disebut morning call. Biasanya waktu aktif mereka dari jam ½ 6 pagi saat matahari terbit sampe sekitar jam 6an mereka udah ambil posisi tidur. Tapi pernah satu kali jam ½ 7 mereka belum tidur, gw ma Manda yang udah nahan pipis dari sore terpaksa nungguin mereka sampe benar-benar tidur jam 7. Kita sampe dicariion sama orang-orang kampung gara-gara belum keluar hutan sampe jam ½ 8. Hehehehe, soalnya gw ma manda sempet nyasar..

Gw berharap, 10.. 20 tahun lagi gw kembali ke TNGHS, gw akan tetap bisa mendengar nyanyian pagi Owa Jawa disana. Bukan hanya melihat replikanya di museum, atau melihatnya di kebun binatang.

Related Posts

No comments:

Post a Comment